Banyuwangi & Tari Gandrung

Banyuwangi & Tari Gandrung

 

Banyuwangi adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Selain itu Banyuwangi adalah ibu kota kabupaten ini.Posisinya sebagai ibu kota kabupaten menjadikan banyaknya gedung-gedung pemerintahan, cabang-cabang perusahaan, dan pusat keramaian yang berdiri di wilayah ini. Wilayah ini dulunya disebut Wana Tirtaganda dan pertama kali menjadi pusat pemerintahan kabupaten pada 1774 saat Kanjeng Raden Tumennggung Wiraguna I atau Mas Alit diangkat menjadi bupati pada tahun yang sama 

   Gandrung Menurut sejarah, tari gandrung pertama kali lahir pada saat pembangunan Ibu Kota Blambangan sebagai pengganti Ulu Pangpang yaitu saat pembukaan lahan hutan tirta arum (tirta gondo) pada tahun 1774.

Asal usul tari gandrung sendiri ditulis dalam sebuah makalah berjudul Gandroeng Van Banyuwangi yang ditulis oleh John Scholte pada tahun 1926. Menurut Scholte, tarian ini dibuat oleh seorang pemuda bernama Marsan yang menarikan tari gandrung bersama pemain musik tradisional di jalanan. Mereka melakukan itu dengan berkeliling ke desa-desa dan diberi penghargaan berupa beras dan bahan pokok lainnya.

Pada saat itu, kondisi masyarakat Blambangan sangat memprihatinkan akibat dari serangan kompeni, banyak dari mereka yang menjadi korban & diasingkan ke tempat yang jauh dan sebagian yang lain dari mereka juga mulai melarikan diri sampai tercerai berai

Para pejuang kemudian memanfaatkan tari gandrung sebagai pemersatu masyarakat yang tercerai berai tersebut, kemudian kembali ke kampung halamannya dan membentuk kehidupan baru di wilayah Tirta arum (yang kemudian dinamai Banyuwangi yaitu nama lain dari tirta arum itu sendiri). Sejak itu tari tradisional ini mulai menjadi bagian dari masyarakat Blambangan dan Ibukota Baru di Tirta Arum dan terus berkembang. Perkembangan tersebut juga meliputi gender penari yang menarikan tari gandrung.


Jika sebelumnya ditarikan oleh lelaki, maka muncul penari gandrung wanita pertama bernama Semi. Ia adalah seorang gadis kecil yang menderita suatu penyakit hingga ibunya, Mak Midhah, bernazar jika sembuh, Semi akan dijadikan sebagai seblang, dan akhirnya Semi sembuh. Pemenuhan nadzar oleh Mak Midhah ini membuat tari gandrung memasuki episode baru dalam perkembangannya karena tari gandrung mulai ditarikan oleh penari perempuan.

Semakin lama, mulai banyak penari perempuan yang menarikan tari gandrung dan sekitar tahun 1890-an, mulai jarang lelaki yang menari gandrung karena dalam agama islam ada larangan laki-laki berdandan menyerupai perempuan. Penari gandrung laki-laki benar-benar menghilang pada tahun 1914 setelah penari gandrung laki-laki pertama yaitu Marsan, meninggal dunia.

Mulanya, gandrung hanya boleh ditarikan oleh keturunan penari gandrung, tetapi seiring berjalannya waktu, mulai banyak gadis-gadis yang mempelajari tarian ini walaupun mereka bukan keturunan penari gandrung. Oke guys jika masih kurang lengkap bisa dilihat di link pada bawah gambar diatas

0 comments:

Posting Komentar

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda